NEWS UPDATE :  

Berita

Perubahan Pendidikan dimasa Pandemi Covid 19

Oleh : M.R Rini Sartika

Kegiatan pembelajaran online atau daring (dalam jaringan) yang dilaksanakan sejak Maret 2020 memang memberi perubahan besar bagi proses pendidikan di Indonesia. Perubahan ini begitu signifikan aktifitas pembelajaran yang biasanya berpusat disekolah beralih menjadi home schooling (di rumah) karena pandemi covid”19 yang melanda negara ini. Situasi ini terlihat buruk dan berdampak negatif bagi perkembangan dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Namun disisi lain ada beberapa hal pada situasi ini yang berdampak positif bagi perkembangan pendidikan di Indonesia, terlihat dengan banyak dan beragamnya upaya yang dilakukan pemerintah dan pihak sekolah untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran siswa dan memaksa semua guru dan elemen terkait dibidang pendidikan untuk melek teknologi. Tidak sedikit guru yang tertatih-tatih dalam melaksanakan pembelajaran daring. Beragam permasalahan pun muncul mulai dari masalah sarana prasarana, penguasaan guru terhadap flatporm penunjang kegiatan, sinyal,dll. Demikian halnya orangtua, kebiasaan-kebiasaan baru mulai terbentuk di rumah manakala orangtua harus berperan ganda dan sekaligus menjadi guru bagi anak-anaknya.

Namun masalah demi masalah tersebut sedikit demi sedikit mulai teratasi, pemerintah dan pihak-pihak terkait di bidang pendidikan mulai gencar mengadakan webinar-webinar untuk pengembangan profesi guru. Upaya untuk memperkaya dan menambah wawawasan guru dalam melaksanakan pendidikan secara daringpun sangat ditekankan demi keberlangsungan pendidikan dan penjaminan mutu pendidikan. Ini adalah sebuah tantangan besar bagi guru-guru yang jarang menggunakan dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Kerjasama, koordinasi, dan pendampingan atau tutor sebaya menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk menyelsaikan permasalahan tersebut. Pembelajaran daring pun diperpanjang sampai Desember 2020 untuk sekolah-sekolah di wilayah zona merah, karena terlalu riskan dan tidak memungkinkan untuk melakukan tatap muka mengingat situasi dan kondisi akibat Pandemi Covid”19. 

Beberapa bulan ini, saya mencoba melakukan observasi dari beberapa hal yang saya lakukan dan yang telah saya lalui selama melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Diawal saya begitu awam dengan istilah Google Classroom,Google Form,Google Meeting, dan Zoom. Saya merasa istilah-istilah itu begitu asing meskipun sebenarnya beberapa aplikasi tersebut ada di drive. Singkat cerita, saya menggunakan flatporm itu untuk mengirimkan materi dan tugas-tugas, juga untuk melakukan tatap muka virtual dengan siswa. Saya pun menerima beberapa tugas yang dari siswa dan melakukan penilaian terhadap hasil karyanya. Hal tersebut membawa perubahan besar di sekolah kami, khususnya bagi saya. Saya mulai bereksperimen dengan menyajikan beragam bentuk penyajian dan penyampaian materi (Doc,gambar,PPT,video) begitu pun halnya dengan tagihan kepada siswa. Pelaksanaan pembelajaran diawal PPJ yang diberlakukan sekolah menuai beragam permasalahan baik yang berasal dari guru maupun siswa. 

Guru dituntut untuk terus belajar dan mencari informasi dari berbagai sumber sekait flatporm dan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya. Ada yang berasumsi bahwa dengan memanfaatkan video converence dapat menyajikan pembelajaran yang bermakna dan mengatasi permasalahan siswa dengan cepat dan akurat. Ada yang mencari video pembelajaran yang sesuai dengan mapel yang diampu kemudian membagikannya kepada siswa. Ada pula yang mengandalkan soal yang dibuat di ms.word setelah melakukan converence dengan siswa. Dan yang terkreatif adalah guru yang membuat video pembelajaran sendiri lalu membagikannnya kepada siswa. Tentunya cara guru menyajikan, menyampaikan, dan melaksanakan pembelajaran baik secara daring maupun luring akan sangat berdampak pada feedback siswa. Guru yang kreatif akan mampu menghasilkan siswa yang kreatif, guru yang inovatif akan mampu menghasilkan siswa yang inovatif. 

Kirim Pesan