Setiap Negeri Yang Ku Pijak - Cerita Bersambung
DISCLAIMER
Cerita ini ditulis murni berdasarkan imajinasi penulis dan dibuat hanya untuk hiburan semata (fan fiction). Seluruh alur dan peristiwa di dalamnya bersifat fiktif.
Beberapa karakter merupakan tambahan yang diberi oleh penulis sebagai pemanis cerita. (Joanne Baxter, etc.)
Perlu diketahui bahwa kepribadian serta latar belakang Fredrinn dalam cerita ini mungkin akan bersifat OOC (Out of Character) dan OOL (Out of Lore) untuk menyesuaikan kebutuhan plot dalam fanfiction ini.
Karakter utama Fredrinn Vance dipinjam dari game Mobile Legends: Bang Bang. Hak cipta dan kepemilikan karakter asli sepenuhnya tetap milik Moonton.
―――――――――――――――
Chapter 1: Benalu Keluarga Vance. (Prolog)
“Fredrinn! Apa maksudmu berkata seperti itu-!?” Nyonya Vance yang dikenal sangat sopan dan elegan itu meninggikan suaranya.
“Selama Ini aku dituntut menjadi putra Adipati Vance yang sempurna, seolah aku hanya boneka kayu untuk kalian kendalikan.”
Seketika, tamparan nyaring melandas di pipi putra sulung keluarga Vance.
Suara tamparan keras itu menggema di sepanjang dinding aula yang megah, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Wajah sang empunya tersentak ke samping, tangannya terangkat untuk menangkup pipinya yang terasa terbakar. Matanya membelalak terkejut menerima tamparan dari sang Adipati.
“Oh, Tuhan.. Kau bocah pembangkang, tidak bisakah kau sekali saja menurut?”
“Sekali saja??" Fredrin mencemooh sombong, dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap tepian bibirnya yang berdarah karena tamparan keras dari ayahnya.
"Setelah tiap titahan yang kalian beri sudah ku penuhi. Bukannya sudah cukup? Jadi dimana hak yang bisa aku terima?”
“Kau-!?
“Terserah, aku sudah muak dengan keegoisan mu!" Fredrinn berbalik memunggungi kedua orang tuanya.
“Fredrinn, anakku.. Kami sudah mengusahakan segalanya untukmu! Kami telah mempersiapkan masa depanmu. Setidaknya jangan tinggalkan ibumu, Freddie..”
Ucapan sang ibunda memperlembut kekerasan dalam raut wajahnya. Fredrinn berhenti setelah beberapa langkah, menengok ke arah ibunya dari balik bahunya.
— — —
Sementara itu adik laki-lakinya—Harley Vance—bersembunyi di balik pilar kokoh dalam aula kastil itu.
Tubuh kecilnya gemetar ketakutan mengetahui kakaknya akan pergi meninggalkannya dalam kastil dengan persyaratan dan aturan ketat di dalamnya.
"Kakak! Tunggu aku, kakak!!” Kaki kecilnya berlari mengejar sosok jangkung dan angkuh itu sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya.
“Kau memang sebuah kegagalan yang terus membuang waktuku. Ku buang kau ke Monastery of Light!” Sang Adipati berseru, dia mencengkram lengan Fredrinn dan menyeretnya kembali ke ruang kamarnya.
“Renungi segala perbuatanmu itu, Fredrinn. Kembali melawan, dan besok kau akan bangun di Kamp Militer Moniyan.”
“Aku tidak-
Pintu kamarnya segera di banting tertutup. Meninggalkan pria jangkung itu berdiri di depannya dengan wajahnya yang pucat pasi.
Dia mengambil beberapa langkah ke belakang dengan terhuyung-huyung, hingga belakang lututnya membentur sisi kasur hingga dia jatuh terduduk ke atas kasurnya.
“Sial.."
Akhirnya membaringkan dirinya ke atas kasur seperti genangan air yang kotor, wajahnya setengah terbenam di bantal bersarung sutra dengan isi bulu angsa yang mewah—yang mungkin—akan menjadi terakhir kalinya dia bisa merasakannya. Karena besok, ayahnya akan mengirimkannya ke Monastery of Light.
Singkatnya, Monastery of Light adalah kuil ‘suci’ sekaligus panti asuhan militer yang berpusat di Kekaisaran Moniyan. Mengangkat anak-anak yatim-piatu karena orangtuanya gugur dalam pertempuran sebagai pejuang di Kekaisaran Moniyan.
Selain itu, Monastery of Light juga menjadi tempat pembuangan anak-anak bangsawan yang dianggap sebagai ‘benalu’ dalam keluarganya, pembangkang dan suka memberontak.
Persis Fredrinn Vance ini..
Karena di tempat itu, mereka akan dididik dengan ketat untuk menjadi penerus generasi pemburu elit atau pemburu iblis di Kekaisaran Moniyan.
Jelas Fredrinn tidak suka dibuang ke sana. ‘Lebih baik dibuang ke perbatasan Abyss saja, dibanding harus pergi ke tempat penyiksaan .’ Pikir Fredrinn. Yang dimana belum mengetahui bahwa bahkan masih di perbatasan Abyss saja sudah sangat mengerikan.
Semua ancaman dari ayahnya, dibuang ke Monastery of Light adalah hal terburuk bagi Fredrinn. Ide itu menentang sifatnya yang mencintai kebebasan dan petualangan.
“Oh ayolah.. Aku bisa belajar bertarung sendiri dengan pengalaman sesungguhnya dari mengembara seluruh Land of Dawn!!”
Fredrinn mengerang frustasi, dia mengepalkan dan mengangkat tinjunya di udara. Membayangi wajah pria tuabangka yang menyebalkan itu.
―――――――――――――――
1Abyss: Wilayah jarang kegelapan
atau dunia bawah di Land of Dawn
yang dihuni oleh fraksi iblis
dan makhluk kegelapan.
Dia melirik lemari pakaiannya, seolah-olah dia menyadari kilauan harta karun menyembul melalui celah celah engsel lemari itu.
Dia segera bangkit untuk meraih lemari itu dan mengobrak-abrik isinya. Gantungan baju-baju formal yang ketat khas bangsawan, isi laci ada berbagai lencana yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun, juga dua kantung penuh koin emas dan perak—sepertinya mereka cukup—pikirnya.
Pada akhirnya, cahaya bulan yang menembus melalui jendela kamar Putra Sulung Vance melihat bagaimana dia memasukkan segala yang dibutuhkan kedalam tas kulit dengan terburu-buru.
Fredrinn nekat mencoba melarikan diri, dengan berbekalkan dua kantung berisi koin serta berbagai lencana yang dia miliki, di bantu dengan jalinan kuat baju-baju formal khas bangsawan yang dia ikat sebagai tali panjang yang menjulur keluar jendela kamarnya.
Astaga.. apakah remaja laki-laki selalu memiliki fase pembangkang seperti ini?? Bahkan untuk seorang Putra Sulung Adipati pun?
―――――――――――――――
Untuk malam itu, dia hanya berlari, tujuannya adalah.. menjauh dari House Vance. Untuk saat ini.
―――――――――――――――
Pagi-pagi buta, Adipati Vance mendatangi kamar Fredrinn.
“Fredrin?"
Ketukannya kuat di pintu kamar Fredrinn.
“Fredrinn Vance?! Apa kau tidak bisa mendengar? Buka pintu sekarang juga dan segera pergi ke Monastery of Light-!
Tidak kunjung mendengar jawaban dari dalam dari sang pemilik kamar, dia segera merogoh sakunya untuk mengambil kunci—sudah mengantisipasi hal ini—dan membuka pintu kamarnya.
Mendapati ketidakhadiran putranya, wajahnya memerah karena marah. Dia bisa melihat bagaimana ruangan itu berantakan seperti kapal pecah.
Lemari terbuka, lencana yang di simpan baik-baik, beberapa pakaian hilang, dan sisanya bahkan sprei dijadikan tali yang diikat kencang ke lubang-lubang ventilasi untuk melarikan diri ke bawah.
“Anak itu.. Tidak tahu diuntung, sudah dipersiapkan hidup yang baik masih saja bertindak tidak rasional! Fredrinn Vance!!!"
•
•
•
Setelah pelarian dari Keluarga Vance, dia bertemu seseorang—Fray Wilder—yang memiliki ambisi dan kecintaan yang sama tentang kebebasan.
Mereka pertama bertemu di sebuah kamp petualang dan pemburu harta karun, tempat itulah yang paling mungkin Fredrinn kunjungi, setidaknya untuk mendapatkan penghasilan tetap demi kehidupan barunya.
Keduanya memiliki tujuan mencari partner untuk menjelajahi berbagai tempat bersama.
—⚜️•┈••✦•⚜️•✦••┈┈┈•⚜️—
Waktu berlalu seperti hembusan angin yang lewat begitu saja, bertahun-tahun telah berlalu setelah pertikaian dalam Keluarga Vance.
Fredrinn bersama dengan Fray menjadi sahabat seperjuangan, mereka berhasil menjelajahi banyak tempat misterius untuk memecahkan berbagai kasus hingga menemukan berbagai peninggalan kuno dan harta karun kisaran ribuan koin perak dan ratusan koin emas.
Fredrinn juga sudah membuka Toko Harta Karun di tengah Kota Los Pecados, Agelta Drylands.
Meskipun Los Pecados dikenal sebagai kota tanpa hukum, tempat para bandit dan orang jahat lainnya berkumpul, Fredrinn mampu menjadi juru taksir paling sukses dan terkenal di kota itu.
Karena pernah memiliki hak istimewa yaitu pendidikan yang dia peroleh saat menjadi bangsawan, memiliki kecerdikan dalam bernegosiasi dan menilai barang berharga hingga kerja langsung di lapangan berbahaya bersama Fray untuk menemui harta benda yang beragam.
Oleh karena itu, orang-orang mempercayai Fredrinn dan memanggilnya Si Tukang Cari Duit.
Di kesempatan kali ini, mereka dipanggil kembali oleh pemilik kamp petualang dan pemburu harta karun. Sudah sekitar enam bulan sejak mereka benar benar diberi misi, karena biasanya Fredrinn dan Fray pergi tanpa perintah atau misi dari pusat.
Fredrinn mengambil surat itu dari kotak surat di depan tokonya dan membuka segel lilinnya. Dia mengeluarkan secarik kertas di dalamnya, membaca kata demi kata seperti sedang mengamati hasil temuannya yang begitu berharga.
“Menarik.. Kau ingin coba, Fray?" Fredrinn menggulung surat itu setelah membaca, melemparkannya kepada Fray dan langsung di tangkapnya.
Fray membacanya sekilas, matanya langsung membelalak dengan semangat saat Edler menyebut batu permata dengan nilai yang tinggi.
"Astaga, aku sangat bersemangat! Aku harap bisa pergi sekarang!”
“Siapkan barang barangmu, kita bisa berangkat kapan saja." Balas Fredrinn.
Bersambung...
—⚜️•┈┈┈••✦•⚜️•✦••┈┈┈•⚜️—
Get to Know the Writer








